Kamis, 25 Mei 2023

PSIKOLOGI REMAJA I

 

PSIKOLOGI REMAJA



Jenis Gangguan Mental & Sisi Negatif Berpacaran

Menurut Pieget (dalam Hurlock) mengatakan secara psikologis remaja adalah usia dimana individu berinteraksi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah ikatan orang-orang yang lebih tua melainkan dalam tingkatan yang sama sekurang-kurangnya dalam masalah hak (Hurlock, 2001 : 206).

Psikologi remaja mengacu pada kebutuhan kesehatan mental remaja antara 10-19 tahun. Remaja adalah kelompok yang berbeda, bukan lagi anak-anak tetapi juga belum dewasa, sehingga pada rentang masa ini bisa dibilang kebutuhannya cukup unik. 

Psikologi remaja berarti mempertimbangkan kebutuhan spesifik seseorang yang otaknya telah berkembang melewati tahap masa kanak-kanak tetapi belum sepenuhnya matang hingga dewasa.

Jenis Gangguan Mental yang Rentan Dialami Remaja

Menurut WHO, berikut jenis-jenis gangguan mental yang rentan dialami oleh para remaja:

1. Gangguan Emosi

Gangguan emosi umumnya muncul pada masa remaja. Selain depresi atau kecemasan, remaja dengan gangguan emosi bisa mengalami sifat mudah marah, frustasi atau marah secara berlebihan. Selain gejala psikologis, gangguan emosi juga dapat menimbulkan gejala fisik, seperti sakit perut, sakit kepala, atau mual. Gangguan emosional bisa sangat memengaruhi kinerja di sekolahnya. Jika tidak segera ditangani, remaja yang mengalami gangguan emosi dapat mengalami gejala lebih buruk, seperti mengisolasi diri hingga punya pikiran bunuh diri.

2. Masalah Perilaku

Masalah perilaku pada masa kanak-kanak merupakan penyebab utama kedua gangguan mental pada remaja. Gangguan perilaku pada masa kanak-kanak contohnya ADHD yang ditandai dengan kesulitan fokus dan gangguan perilaku yang ditandai dengan perilaku merusak atau menantang. Masalah perilaku ini juga dapat memengaruhi kinerja sekolah dan berisiko menimbulkan perilaku kriminal pada remaja.

3. Gangguan Makan

Gangguan makan biasanya muncul pada masa remaja dan dewasa muda. Gangguan makan lebih sering menyerang wanita daripada pria. Contoh gangguan makan yang bisa dialami remaja adalah anoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan gangguan makan yang ditandai dengan membatasi kalori atau makan berlebihan. Gangguan makan berisiko merusak kesehatan dan sering kali muncul bersamaan dengan depresi, kecemasan atau penyalahgunaan zat.

4. Psikosis

Gejala psikosis paling sering muncul pada akhir masa remaja atau awal masa dewasa. Gejala dapat berupa halusinasi atau delusi. Gejala ini dapat mengganggu kemampuan remaja untuk berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari dan memengaruhi kinerja sekolahnya. Psikosis juga bisa menimbulkan stigma negatif di masyarakat atau pelanggaran hak asasi manusia.

5. Menyakiti Diri Sendiri Hingga Bunuh Diri

Ada sejumlah faktor risiko yang memicu perilaku bunuh diri pada remaja. Misalnya, penggunaan alkohol yang berbahaya, pelecehan di masa kanak-kanak dan hambatan dalam mengakses perawatan mental. Selain itu, media sosial juga kini menjadi penyebab bunuh diri terbesar pada anak remaja. Pasalnya, media sosial bisa menuntut banyak hal pada anak remaja, seperti citra diri dan kehidupan yang cenderung konsumtif.

6. Perilaku Pengambilan Risiko

Para remaja juga rentan mengambil banyak risiko, seperti risiko melakukan hubungan seksual dini, merokok, minum alkohol, hingga penyalahgunaan narkoba. Tindakan kekerasan adalah perilaku pengambilan risiko yang dapat memengaruhi pencapaian pendidikan, cedera, keterlibatan dengan kejahatan, hingga kematian. 

Masa remaja juga sebagai masa pubertas, dimana remaja sudah mulai pandai berpacaran, dan melansir dari kompasiana.com penulis memaparkan sisi negatif dari berpacaran disaat remaja atau usia sekolah, sebagai berikut:

Sisi negatif

1.      Menurunnya prestasi di sekolah

Dampak seperti ini sudah sering kita dengar di kalangan masyarakat saat ini. Tidak heran memang jika pacaran dapat membuat prestasi kita disekolah menurun. Karena dengan kita melakukan pacaran, otomatis waktu kita akan terbagi. Dari yang biasanya selalu menyibukkan diri dengan belajar sekarang jadi harus membagi waktu untuk mengabarin pacarnya. 

2.      Meningkatkan stress

Hubungan pacaran tidaklah seindah dengan yang ditayangkan film-film di tv. Remaja yang menjalin hubungan pacaran pasti akan mendapatkan masalah dan merasakan cemburu. Cemburu yang berlebihan dapat mengganggu pikiran dan mengakibatkan stress. 

3.      Membuang-buang uang

Bagi orang yang melakukan hubungan pacaran tentu tidak heran dengan dampak yang satu ini. Dampak seperti ini terlihat sangat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Kita rela membelikan sesuatu yang dinginkan sang kekasih tanpa ragu-ragu, seperti membelikannya hadiah, pulsa, mentraktir makan, nonton dan lain sebagainya. 

4.      Menyempitnya pergaulan terhadap teman

Setiap remaja yang menjalin hubungan pacaran, pasti memiliki sikap dan kepribadian yang berbeda-beda. Tidak sedikit remaja yang memiliki sikap possesive terhadap pasangannya. Sudah jelas jika kita memiliki kekasih yang mempunyai sikap possesive tentu akan sangat merugikan kita, karena dia akan membatasi pergaulan pertemanan kita terhadap lawan jenis.

Kemudian untuk sisi positif berpacaran, cari tahu sendiri ya…hehe…belajar dulu ditingkatkan..iya kan..?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sejarah Doa Ratu Surga dan Isi Doanya

Doa Ratu Surga ditetapkan untuk seluruh umat Katolik di seluruh dunia pada 20 April 1742 oleh Paus Benediktus XIV. Penetapan ini tertulis da...