Sabtu, 23 Agustus 2025



Berapi-api berbusa soda

Menggedor-gedor dinding rasa

Mengobrak-abrik pertahanan logika

Agar misi aneksasi tak diterka


Rasa dalam hati kian menyala

Melompat rasio keluar dari kepala

Logika diperdaya retorika

Air mata menambatkan hati seketika


Nada tinggi teriak pengkhotbah penuh ambisius.

Mengulang kembali doktrin gereja abad tengah, extra ecclesiam nulla salus.


Luasnya Rahmat yang di Atas, dibonsai oleh sebuah komunitas. 

Seperti para pemecah selaput lingga, mendaulat diri pemilik kunci surga.

Muncurlah argumentum ad verecundiam, agar diktum sektarian kian menghujam. 

Katanya, "dengan paduka di alam gaib kami terkoneksi, keselamatan di luar kami tidak digaransi".


Nama didesign taksa, terjadilah bias makna.

 Orang-orang serasa mengabdi yang kuasa, nyatanya hanya membudak pada para perampok massa.


Logika persaingan diamputasi

Dengan retorika persatuan

Yang beda dituding mengancam harmoni 

Sesungguhnya hanya mengancam dominasi

 

Begitulah retorika tanpa logika, normalisasi perbudakan atas nama persatuan. 

Bukankah lebih baik berpisah, asal tetap merdeka?

 Bukankah karena berbeda, kita harus bersatu?

 Lantas mengapa demi persatuan, tak boleh berbeda?


Berjam-jam pangkhotbah membual, jiwa-jiwa terbuai. 

Ketika kondisi kembali normal, semua telah usai. 

Sudah terlambat, hati telah terikat.


Hanyut? Manut !!!

Melawan? Singkirkan !!!


Berapi-api menentang arus air

Diam-diam menenteng ember

Air yang dicela

Diminum jua


Dekrit tetua hipokrit

Politik kaum munafik

Retorika tanpa logika

Dibabat pedang filsafat hancur remuk tak bermakna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LATIHAN SOAL MULOK AGAMA KATOLIK

1. Kitab Suci dalam Gereja Katolik disebut juga sebagai… A. Tradisi Suci B. Sabda Allah C. Dogma Gereja D. Liturgi Kudus Jawaban: B ...