Senin, 23 Maret 2026

DOA KERAHIMAN PUKUL 15.00 WIB



Ya Yesus,Engkau telah wafatnamun sumber kehidupan telah memancar bagi jiwa-jiwa, Dan terbukalah lautan kerahiman bagi seluruh dunia, O Sumber kehidupan, Kerahiman ilahi yang tak terselami, Naungilah segenap dunia, dan curahkanlah diri-Mu pada kami.

Darah dan Air, yang telah memancar dari Hati Yesus, sebagai Sumber Kerahiman bagi kami, Engkaulah andalanku!.......3x

Allah yang Kudus, Kudus dan berkuasa, Kudus dan kekal, kasihanilah kami,
dan seluruh dunia ….. 3x

Yesus, Raja Kerahiman Ilahi,
Engkaulah Andalanku.

Amin..🙏

Sabtu, 14 Maret 2026

KEMATIAN BUKAN AKHIR DARI KEHIDUPAN


Kematian merupakan salah satu fenomena paling fundamental dan universal yang dialami oleh setiap makhluk hidup. Tidak ada satu pun individu yang dapat menghindari momen ini, meskipun berbagai upaya telah dilakukan sepanjang sejarah manusia untuk memahami, menghindari, atau bahkan mengabadikannya. Kematian bukan sekadar akhir dari keberadaan biologis, melainkan sebuah konsep yang melampaui batas-batas ilmu pengetahuan dan menyentuh ranah filsafat, spiritual, serta eksistensi manusia itu sendiri.

Pemahaman tentang kematian telah menjadi fokus utama berbagai peradaban sepanjang sejarah. Dari Mesir kuno yang membangun piramida megah untuk mempersiapkan firaun menuju kehidupan akhirat, hingga filsuf-filsuf Yunani seperti Socrates dan Plato yang merenungkan kematian sebagai pembebasan jiwa, manusia terus-menerus berupaya memberikan makna pada momen yang tidak dapat dielakkan ini. Dalam konteks modern, ilmu pengetahuan telah memberikan penjelasan yang lebih komprehensif tentang proses biologis kematian, namun pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang apa yang terjadi setelah kematian dan bagaimana seharusnya kita hidup menyadari kematian tetap menjadi misteri yang mengundang refleksi.

Dari perspektif ilmiah, kematian dapat didefinisikan sebagai penghentian permanen semua fungsi biologis yang mendukung kehidupan organisme. Dalam dunia kedokteran, kematian sering kali dikategorikan menjadi beberapa tahap dan jenis, tergantung pada konteks dan kriteria yang digunakan untuk menentukan kapan seseorang dianggap telah meninggal.

Kematian seluler merupakan proses yang dimulai segera setelah penghentian pasokan oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh. Sel-sel otak, yang sangat sensitif terhadap kekurangan oksigen, mulai mengalami kerusakan irreversible dalam hitungan menit setelah aliran darah berhenti. Sementara itu, sel-sel lain dalam tubuh dapat bertahan lebih lama—sel kulit dan sel rambut bahkan dapat tetap hidup selama beberapa hari setelah kematian keseluruhan organisme. Fenomena ini menjelaskan mengapa transplantasi organ harus dilakukan dengan sangat cepat dan mengapa mayat dapat tetap mempertahankan beberapa karakteristik fisik untuk sementara waktu.

Dari sudut pandang medis modern, kematian otak dianggap sebagai kriteria definitif untuk menentukan kematian seseorang, terutama dalam konteks transplantasi organ. Kematian otak berarti penghentian permanen seluruh fungsi otak, termasuk batang otak yang mengendalikan fungsi-fungsi vital seperti pernapasan dan detak jantung. Meskipun dengan bantuan ventilator jantung dapat tetap berdetak dan paru-paru dapat terus bekerja, ketidakhadiran aktivitas otak secara permanen menjadikan individu tersebut secara medis telah meninggal.

Kematian tidak hanya mempengaruhi individu yang mengalaminya, tetapi juga meninggalkan dampak yang mendalam bagi mereka yang ditinggalkan. Proses berkabung atau duka cita merupakan respons emosional yang kompleks dan sangat personal terhadap kehilangan. Setiap individu mengalami proses ini dengan cara yang berbeda, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti hubungan dengan yang meninggal, budaya, kepercayaan religius, dan kapasitas koping psikologis.

Tahap-tahap duka cita yang digambarkan oleh Elisabeth Kübler-Ross—penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan—memberikan kerangka pemahaman tentang perjalanan emosional yang dilalui oleh mereka yang kehilangan orang tercinta. Meskipun tidak semua orang mengalami tahap-tahap ini secara berurutan atau lengkap, model ini membantu kita memahami bahwa duka cita adalah proses yang memerlukan waktu dan tidak dapat dipaksakan atau diabaikan.

Ketakutan terhadap kematian, yang dalam psikologi dikenal sebagai thanatophobia, merupakan fenomena universal yang mempengaruhi perilaku manusia dalam berbagai cara. Ketakutan ini dapat memanifestasikan diri dalam bentuk kecemasan berlebihan tentang kesehatan, penghindaran diskusi tentang kematian, atau bahkan pencarian keabadian melalui berbagai pencapaian. Beberapa teori psikologi menyatakan bahwa banyak keputusan hidup manusia, baik yang disadari maupun tidak, dipengaruhi oleh kesadaran akan kematian yang selalu mengintai.

Filsafat telah menawarkan berbagai pandangan tentang hakikat kematian dan implikasinya bagi kehidupan manusia. Pertanyaan-pertanyaan fundamental seperti "Apakah kematian itu buruk?", "Apakah ada kehidupan setelah kematian?", dan "Bagaimana seharusnya kita hidup mengingat kematian?" telah menjadi objek perdebatan para filsuf selama berabad-abad.

Dalam tradisi filsafat Barat, Socrates dalam dialog Phaedo menyatakan bahwa kematian seharusnya tidak ditakuti karena ia adalah pemisahan jiwa dari tubuh, dan jiwa yang murni filosofis justru akan bebas untuk mengejar kebijaksanaan sejati. Pandangan ini kemudian dikembangkan oleh Plato yang melihat kematian sebagai pembebasan jiwa dari belenggu dunia material yang tidak sempurna. Epicurus, sebaliknya, berpendapat bahwa kematian tidak perlu ditakuti karena ketika kita masih hidup, kematian belum datang, dan ketika kematian datang, kita sudah tidak ada lagi untuk mengalaminya—oleh karena itu, kematian adalah ketiadaan dan bukan sesuatu yang perlu ditakuti.

Di abad modern, Martin Heidegger dalam karyanya "Being and Time" mengemukakan konsep "Being-toward-death" atau keberadaan-menuju-kematian. Baginya, kesadaran akan kematian bukan sumber ketakutan yang harus dihindari, melainkan kondisi fundamental yang memungkinkan manusia untuk hidup secara autentik. Kesadaran bahwa waktu kita terbatas memberikan urgensi dan makna pada setiap pilihan hidup kita, memaksa kita untuk bertanggung jawab atas keberadaan kita sendiri.

Berbeda dengan pandangan materialis yang melihat kematian sebagai penghentian total keberadaan, sebagian besar tradisi religius dan spiritual memandang kematian sebagai transisi menuju bentuk keberadaan yang lain. Kepercayaan-kepercayaan ini memberikan kerangka makna yang membantu jutaan orang menghadapi kenyataan kematian dengan harapan dan ketenangan.

Dari perspektif psikologi eksistensial, ketakutan terhadap kematian memiliki efek yang paradoks pada kehidupan. Di satu sisi, ketakutan yang tidak terkelola dapat melumpuhkan dan mencegah kita dari hidup sepenuhnya. Di sisi lain, konfrontasi yang jujur dengan kematian dapat menjadi katalis untuk hidup lebih intens dan bermakna.

Ernest Becker, dalam The Denial of Death, berargumen bahwa sebagian besar perilaku manusia—dari pencapaian ambisius hingga kreasi artistik, dari pembentukan keluarga hingga keterlibatan dalam gerakan sosial pada dasarnya adalah upaya untuk mengatasi ketakutan akan kematian dengan menciptakan sesuatu yang "abadi." Dengan meninggalkan warisan, berkontribusi pada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri, atau menanamkan diri dalam tradisi yang akan berlanjut setelah kita pergi, kita secara simbolis mengatasi ketidakimmortalan kita.

Dalam pandangan Katolik, kematian dipandang sebagai pemisahan jiwa dari tubuh, dengan jiwa yang percaya akan menerima kehidupan kekal bersama Tuhan. Ajaran tentang kebangkitan tubuh dan kehidupan akhirat memberikan harapan bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan pintu masuk ke keberadaan yang lebih sempurna. Tradisi ini juga menekankan pentingnya hidup suci karena segala tindakan manusia akan diadali setelah kematian.

Seperti yang kita ketahui dari kisah Lazarus dan orang kaya setelah kematian mereka (lih. Luk 16:19-31), kita mengetahui,  bahwa manusia “ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.” (Ibr 9: 27). Pada saat inilah kita diminta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita (lih. Luk 16:2) dan akan diadili sesuai dengan perbuatan kita (lih. 1 Pet 1:17, Rom 2:6). Lalu jiwa kita menerima akibat dari keputusan pengadilan ini. Inilah yang disebut Pengadilan Khusus.

Sedangkan pada akhir dunia nanti, kita akan kembali diadili di hadapan semua mahluk, dan segala perbuatan baik dan jahat akan dinyatakan, “Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak diketahui dan diumumkan.”(Luk 8: 17). Pada saat itu, seluruh bangsa akan dikumpulkan di hadapan tahta Kristus, dan Dia akan mengadili semua orang: yang baik akan dipisahkan dengan yang jahat seperti memisahkan domba dan kambing (lih. Mat 25: 32-33). Pengadilan ini merupakan semacam ‘pengumuman’ hasil Pengadilan Khusus setiap orang di hadapan segala mahluk. Inilah yang disebut Pengadilan Umum/ Terakhir. Pengadilan Umum ini akan memberikan penghargaan ataupun penghukuman terhadap jiwa dan badan.

Yesus berkata, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada” (Yoh 14:1-3).

KGK/Katekismus Gereja Katolik mengatakan:

1007.

Kematian adalah akhir kehidupan duniawi. Kehidupan kita berlangsung selama waktu tertentu, dan di dalam peredarannya kita berubah dan menjadi tua. Kematian kita, seperti pada semua makhluk hidup di dunia ini, adalah berakhirnya kehidupan alami. Aspek kematian ini memberi kepada kehidupan kita sesuatu yang mendesak: keyakinan akan kefanaan dapat mengingatkan kita bahwa untuk menjalankan kehidupan kita, hanya tersedia bagi kita suatu jangka waktu terbatas
"Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu... sebelum debu kembali menjadi tanah seperti semula, dan napas kembali kepada Allah, yang mengaruniakannya" (Pkh 12:1.7).

1010.Oleh Kristus kematian Kristen mempunyai arti positif. "Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan" (Flp 1:21). "Benarlah perkataan ini: jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia" (2 Tim 2:11). Aspek yang sungguh baru pada kematian Kristen terdapat di dalam hal ini: Oleh Pembaptisan warga Kristen secara sakramental sudah "mati bersama Kristus", supaya dapat menghidupi satu kehidupan baru. Kalau kita mati dalam rahmat Kristus, maka kematian badani menyelesaikan "mati bersama Kristus" ini dan dengan demikian melaksanakan secara definitif penggabungan kita dalam Dia oleh karya penebusan-Nya:
"Lebih baiklah bagiku untuk mati karena Kristus, daripada hidup sebagai raja atas segala ujung bumi. Aku mencari Dia, yang wafat untuk kita; aku menghendaki Dia, yang bangkit demi kita. Kelahiran aku nantikan... biarlah aku menerima sinar yang cerah. Setelah tiba di sana, aku akan menjadi manusia" (Ignasius dari Antiokia, Rom 6,1-2).

1011.Dalam kematian, Allah memanggil manusia kepada diri-Nya. Karena itu, seperti Paulus, warga Kristen dapat merindukan kematian: "Aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus" (Flp 1:23). Dan ia dapat mengubah kematiannya menjadi perbuatan ketaatan dan cinta kepada Bapa, sesuai dengan contoh Kristus Bdk. Luk 23:46.
"Kerinduan duniawiku sudah disalibkan... Di dalam aku ada air yang hidup dan berbicara, yang berbisik dan berkata kepada aku: Mari menuju Bapa" (Ignasius dari Antiokia, Rom 7,2).
"Aku hendak melihat Allah, dan untuk melihat Dia, orang harus mati" (Teresia dari Yesus. vida 1).
"Aku tidak mati; aku masuk ke dalam kehidupan" (Teresia dari Anak Yesus)

Jumat, 13 Maret 2026

MISTIK KOSMIK ST. FRANSISKUS ASISI



Visi sakramental Kristiani tentang ciptaan dapat mencegah ide yang memisahkan Allah dan ciptaan (dualisme), roh dan materi, badan dan jiwa, langit dan bumi. Gagasan sakramental ini sesungguhnya berakar dalam Kitab Suci, khususnya Kitab Mazmur. Ciptaan Allah menyingkapkan dan mencerminkan kebesaran dan keluhuran Pencipta, keindahan dan kelembutan-Nya. Segala ciptaan merupakan penyataan diri Allah dan komunikasi diri Allah kepada manusia. Dengan demikian manusia dapat berjumpa, mengalami dan mengkotemplasikan Allah dalam dan melalui ciptaan-Nya. Sayangnya, sepanjang millenium pertama, warisan spiritual yang bersumber pada Kitab Suci itu, menghilang dari praksis hidup beriman serta praksis kesucian Kristiani. G.K. Chesterton, sebagaimana dikutip Leonardo Boff, mengingatkan kita akan kekosongan dimensi itu dalam konsep kesucian kristiani. 

Pada periode millennium pertama kekristenan, kesucian berarti menjauhi dunia dan sesama. Para rahib pergi ke padang gurun nan sepi untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mendekati Allah berarti menjauhi dunia (fuga mundi). Menurut Leonardo Boff, St. Fransiskus mengakhiri model pencarian kesucian seperti ini. Manusia dapat berjumpa dengan Allah dan mewujudkan kesucian hidup tidak lagi dengan fuga mundi, tetapi dengan masuk ke dalam dunia dan berjumpa dengan manusia serta alam ciptaan.

St. Fransiskus menawarkan suatu model kesucian kosmik dengan mengkotemplasikan Allah dan keagungan-Nya, rahmat dan kemuliaan-Nya dalam alam raya serta ciptaan yang merupakan sakramen Allah dan Kristus. Kesucian dan spiritualitas kosmik St. Fransiskus merupakan sintesa dari apa yang sudah hilang dalam tradisi Kristiani, yakni berjumpa dengan Allah, Yesus Kristus dan Roh Kudus dalam ciptaan.

St. Fransiskus menandai suatu langkah baru, dengan meninggalkan model-model pertobatan dan askese yang keras di padang gurun, menuju suatu pertobatan dan askese yang penuh darah dan lagu, dengan sukacita, tarian, hati dan puisi. St. Fransiskus mengalami Allah dalam segala sesuatu yang disapanya adalah saudara dan saudari. Relasi St. Fransiskus dengan alam, amat relevan bagi refleksi teologi ekologi. Leonardo Boff menunjukkan tiga hal pokok untuk menjelaskan simpati dan sinergi dalam diri St. Fransiskus dengan ciptaan. Ketiga hal itu adalah, pertama, St. Fransiskus seorang penyair ontologis; kedua, ia sadar akan akan asal-usul yang sama dari segala sesuatu, yakni Allah; ketiga, St. Fransiskus menjalankan hidup dalam kemiskinan radikal. St. Fransiskus dikenal sebagai seorang “penyanyi Tuhan.” Dalam dirinya, eros merupakan kekuatan dan hasrat akan hidup serta keindahan, yang dihidupi oleh agape, sebagai kasih yang memberi diri, bebas dari cinta diri dan pemilikan, dan terbuka terhadap yang absolut. 

Dalam diri St. Fransiskus, eros tidak saja disublimasi, tetapi diperdalam dan diperluas untuk mencapai dasarnya dalam sesuatu yang menyenangkan dan menggembirakan, yakni Allah, sumber kasih (agape). St. Fransiskus melihat dan menghargai segala sesuatu, sebagai tanda kehadiran Allah, sakramen, rahmat dan pemberian diri-Nya. Karena itu, St. Fransiskus dapat mempersonalisasi segala sesuatu dan menyebutnya sebagai saudara dan saudari.

St. Fransiskus tidak berhenti pada sikap mengakui dan menghargai ciptaan sebagai sakramen Allah. Ciptaan bukan hanya sarana atau instrumen untuk mencapai Allah. Ia menerima dan mengakui alam dalam keberbedaannya, dengan demikian dia mengakui dan menyambut ciptaan sebagai sesuatu yang berharga di hadapan Allah Pencipta, bebas dari hasrat memiliki dan sekedar menjadikannya alat menuju Allah.

Sikap St. Fransiskus terhadap ciptaan terutama dicirikan oleh pengalamannya akan Allah, yang dilukiskannya dalam kata-kata Deus meus et omnia —yang dapat diterjemahkan— Tuhanku dan segalanyaku. Ia mengalami segala sesuatu dalam Allah dan mengalami Allah dalam segala sesuatu. St. Fransiskus tidak menolak pemanfaatan sumber-sumber alam untuk kebutuhan manusia. Tetapi dia menegaskan bahwa pemanfaatan sumber-sumber alam harus dengan rasa hormat dan syukur. Alam semesta bukanlah hanya bahan mentah bagi manusia, tetapi saudara dan saudari, karena setiap ciptaan bernilai, juga di hadapan Allah. 

St. Fransiskus melihat bukanlah nilai ekonomis, instrumental atau utilitarian, tetapi teologis dan estetis. Nilai ciptaan menurut dia terungkap dalam kesaling-terkaitan antarciptaan dan dengan Allah. Itulah sebabnya mengapa St. Fransiskus bersikap lemah lembut serta hormat terhadap ciptaan. Semua ciptaan itu suci dan kesucian ciptaan menurut St. Fransiskus dipertegas oleh peristiwa inkarnasi Allah. Dalam inkarnasi Allah menerima bagi diri-Nya eksistensi manusiawi.  Pengalaman yang mendalam tentang Allah dalam segala sesuatu mengubah diri St. Fransiskus secara total. Sebagaimana dituliskan oleh seorang penulis riwayat hidupnya bahwa St. Fransiskus, telah menjadi manusia baru yang telah diberikan surga kepada dunia.

Dengan demikian St. Fransiskus memperkenalkan suatu cara berada baru di dunia: berada di dunia dalam kesatuan dengan segala ciptaan. Manusia tidak berada di atas ciptaan, untuk menguasai dan memilikinya. Manusia berada bersama ciptaan, untuk mencintai dan hidup bersama ciptaan sebagai saudara dan saudari. St. Fransiskus sesungguhnya memulai suatu cara hidup baru di dunia, yang sekarang ini dipromosikan oleh Arne Naes dengan nama ecosophy.

Kesadaran diri St. Fransiskus sebagai saudara dari segala ciptaan berakar pada sakramentalitas dari ciptaan. Ciptaan menghadirkan bagi St. Fransiskus, Sang Pencipta. Bersama ciptaan, di hadapan Sang Pencipta, St. Fransiskus menerima diri sebagai sesama ciptaan. Kidung Saudara Matahari (The Canticle of Brother Sun), merupakan karya puitis-ontologis yang mengungkapkan kekaguman St. Fransiskus akan semua ciptaan. Semua ciptaan diterimanya dalam satu keluarga ciptaan, dari Bapa yang satu dan sama, Sang Pencipta. Dalam Kidung Saudara Matahari, St. Fransiskus menghadirkan diri sebagai seorang penyair ontologis dan seorang mistikus-kosmis yang mengalami transfigurasi ciptaan menjadi “saudara dan saudari.”

Proses tersebut terjadi dalam diri St. Fransiskus sebagai bagian utuh dari pertobatannya, sebagai proses pemurnian dalam kesetiaan sempurna kepada Injil Yesus Kristus, sampai dirinya berubah dan matanya terbuka. St. Fransiskus melihat segala sesuatu dalam keterhubungan secara komplementer, dalam suatu desain semesta yang disebut: ekosistem, suatu keluarga alam semesta. Ciptaan lain berharga dan bernilai, karena mereka adalah saudara-saudari kita. Manusia dan ciptaan dibingkai dalam suatu ekosistem keutuhan ciptaan.

St. Fransiskus sungguh mengalami dan menyadari bahwa asal-usul segala sesuatu adalah persekutuan Triniter. Asal usul segala sesuatu adalah hati Bapa, melalui Putera dan kekuatan Roh Kudus, yang menjadikan dan menciptakan semua ciptaan. Itulah yang dimaksudkan dengan asalusul Triniter segala sesuatu. Kesatuan ciptaan dalam alam semesta berakar dalam kesatuan Allah Tritunggal, sebagai Pencipta (perichoresis).

Inilah dasar teologis kesadaran dan pengalaman St. Fransiskus akan kehadiran abadi Allah dalam ciptaan. Mistisisme kosmik St. Fransiskus mengalir dari perjumpaan dan pengalamannya akan Allah Tritunggal dalam ciptaan.  Segala sesuatu bersumber pada Allah dan berada (dan bersaudara) dalam Dia. Berlandaskan pada keyakinan bahwa asal segala sesuatu adalah Allah, maka semua ciptaan adalah saudara dan saudari, di bawah satu atap dari rumah Bapa bersama (ekologi). “Fransiskus tidak takut pada apapun. St.Fransiskus memahami manusia tidak dari aspek kekhasannya (keunikannya) yang membedakan manusia dari ciptaan lainnya, tetapi dari asal-usul segala sesuatu yang membuat semuanya bersaudara.

Manusia dalam pandangan St. Fransiskus, bukan hanya makhluk rasional, tetapi makhluk ekologis-kosmik, saudara-saudari dari Ibu Bumi, rahim semua ciptaan. Ketika bernyanyi dengan ciptaan, sebagaimana didendangkannya dalam Kidung Saudara Matahari, St. Fransiskus tidak bernyanyi melalui ciptaan, dalam arti menggunakan (instrumentalisasi), tetapi bernyanyi dengan mendengar kidung yang didendangkan ciptaan kepada Allah. Para saudari burung memuji Pencipta mereka. Marilah kita ke sana bergabung dengan mereka memuji dan menyanyikan offisi Ilahi.

Kidung Saudara Matahari, merupakan sintesa dan kristalisasi kharisma St. Fransiskus sebagai penyair ontologis. Di dalamnya St. Fransiskus mengekpresikan mistisisme kosmik, serta kasihnya akan kemiskinan. Dalam mistisisme kosmik St. Fransiskus, semua ciptaan secara intrinsik dipersatukan oleh kenyataan eksistensialnya sebagai ciptaan. Selain kesatuan intrinsik tersebut, St. Fransiskus melangkah lebih jauh menelusuri asal-usul segala sesuatu dalam Allah, yang menciptakan segala sesuatu ex nihilo. Ciptaan tidak menjadikan dan menciptakan dirinya sendiri. Makhluk tidak punya alasan intrinsik untuk berada. Kesadaran akan realitas ini, bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, membantu kita untuk memahami kemiskinan St. Fransiskus dan pengakuannya akan Allah sebagai, Deus meus et omnia

Kemiskinan bagi St. Fransiskus adalah buah dari kesadaran eksistensialnya bahwa dirinya sebagai manusia tidak memiliki alasan berada dari dalam diri sendiri, selain hanya kasih Allah saja. bebasan untuk mencintai dan menghargai segala sesuatu sebagai saudara dan saudari. St. Fransiskus menyadari bahwa keinginan untuk memiliki berakar dalam keinginan untuk menguasai dan mengontrol segala sesuatu demi kepentingan sendiri. Kemiskinan merupakan komitmen eksistensial yang bersumber pada pengalaman akan Allah, orang lain, diri sendiri dan ciptaan. Pengalaman akan Allah itu membangkitkan dalam dirinya suatu cara berada baru di dunia, yakni bebas dari segala sesuatu agar dapat membebaskan segala sesuatu, serta menjadi diri sendiri, tanpa keinginan untuk menguasai dan menempatkan yang lain di bawah kekuasaan. Kemiskinan St. Fransiskus disertai oleh kebajikan asketisme dan pengekangan diri.

Karena bebas dari segala sesuatu, St. Fransiskus pun dapat bebas berhubungan dengan segala sesuatu dalam kesatuan ontologis sebagai ciptaan. Kemiskinan sebagaimana dipahami St. Fransiskus, mempersatukan segala sesuatu sebagai saudara-saudari, karena dalam dasar keberadaannya semuanya saling bergantung dan melengkapi. Sebagaimana dikatakan St. Agustinus, “Kita tidak menciptakan diri kita sendiri, tetapi diciptakan Allah yang abadi.  Dalam kemiskinan yang fundamental ini, semua ciptaan setara. Dengan menekankan kesetaraan, tidak berarti bahwa St. Fransiskus mengingkari peran khas manusia dalam alam ciptaan. Dalam terang inkarnasi. St. Fransiskus menegaskan keluhuran martabat manusia. Bagi St. Fransiskus, inkarnasi (Allah menjadi manusia) berarti bahwa manusia di tengah ciptaan merupakan sasaran pemberian diri Allah secara penuh.

Inkarnasi bagi St. Fransiskus adalah juga model kemiskinan absolut (kenosis). Sebagaimana Yesus Kristus, yang tidak memiliki apa-apa agar dapat mengasihi semua, demikian juga St. Fransiskus, menghidupi model kemiskinan yang sama seperti Tuhan dan Gurunya. Sebagaimana sudah dikatakan sebelumnya, hasrat memiliki berakar pada keinginan menguasai dan mengontrol sesuai kepentingan sendiri. Hal itu seringkali menjadi pemicu terjadinya ketidakadilan, konflik dan kekerasan. Sebaliknya, kemiskinan menuntun manusia menuju pembebasan diri dari hasrat menguasai dan mengontrol, yang umumnya terungkap dalam hasrat memiliki baik sesama manusia maupun ciptaan. Kemiskinan lantas berarti hormat dan syukur dalam memperlakukan ciptaan lainnya, dalam semangat kasih dan kelembutan. Kemiskinan mengingatkan manusia bahwa manusia bukan sekedar makhluk sosial dan rasional, tetapi juga makhluk ekologis.

Ada beberapa hal yang bisa dikemukakan sebagai kesimpulan dari tulisan ini. Pertama, Allah adalah satu-satunya Pencipta. Manusia adalah ciptaan dengan martabat sebagai “gambar dan rupa Allah.” Status ini mengandung konsekuensi bahwa manusia adalah partner Allah dalam memelihara dan menjaga ciptaan. Manusia adalah representasi Allah di hadapan ciptaan. Manusia bukan penguasa, dan memperlakukan ciptaan secara eksploitatif serta destruktif merupakan pengingkaran terhadap mandat awali dan merendahkan martabat luhur manusia itu sendiri.

Teologi Kristen mempertegas landasan teologis bagi kepedulian pada ciptaan, sebagaimana direfleksikan oleh St. Paulus, yang meng-hubungkan kedudukan Yesus Kristus sebagai inti pokok dalam iman Kristiani, serta konsekuensi moralnya pada sikap terhadap ciptaan. Dalam tradisi kehidupan Kristiani, figur St. Fransiskus Asisi adalah pribadi yang dengan tepat memahami dan mengelaborasi tuntutan iman (teologis) itu pada sikap dan kehidupan nyata. Bagi orang Kristen, kepedulian pada lingkungan adalah tuntutan iman. Kesejatian iman Kristiani pada orang percaya antara lain terungkap atau terwujud dalam kepedulian nyata pada lingkungan hidup.

Marilah kita belajar dari semangat St. Fransiskus Asisi bersahabat dengan alam dan ciptaan Allah. Sebagai bentuk dari kasih karunia Allah yang telah kita terima, hendaknya kita juga mengasihi Allah dengan turut serta menjaga dan melestarikan alam ini agar hidup kita seimbang dengan alam. Alam yang kita manfaatkan dan diami saat ini harus diwariskan dengan keadaan baik bagi anak, cucu, cicit kita... jangan sampai kita mewariskan kehancuran bagi generasi mendatang, "jangan sampai kita yang dapat untungnya tetapi mereka yang mendapat buntungnya". Mari mengasihi Allah, mengasihi sesama, dan mengasihi alam ciptaan. Demi keberlangsungan hidup yang damai sejahtera. Semoga demikian...Amin...🙏😇

LATIHAN SOAL MULOK AGAMA KATOLIK

1. Kitab Suci dalam Gereja Katolik disebut juga sebagai… A. Tradisi Suci B. Sabda Allah C. Dogma Gereja D. Liturgi Kudus Jawaban: B ...