Langsung ke konten utama

 SEBUAH REFLEKSI (KESADARAN EKOLOGI)

OLEH : F.X. WELLY 

Salve Saudara/i yang dikasihi oleh Tuhan.

Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato-Si artikel 1-2 mengungkapkan keprihatinannya karena hancurnya bumi sebagai rumah kita bersama dengan menyatakan bahwa ibu pertiwi yang memelihara dan mengasuh kita dengan aneka ragam buah-buahan beserta bunga yang warna-warni sekarang telah menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya, karena penggunaan dan penyalahgunaan yang tidak bertanggung jawab atas kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalamnya.

Keprihatinan Paus tersebut lahir dari kenyataan bahwa hidup manusia saat ini banyak menimbulkan kecemasan. Setiap tahun manusia menghasilkan ratusan juta ton limbah yang sebagian besar tidak membusuk secara biologis seperti limbah domestik dan perusahaan limbah pembongkaran bangunan, limbah klinis, elektronik dan industri, yang sebagian besar radioaktif dan sangat beracun. Akibatnya bumi sebagai rumah kita bersama mulai terlihat sebagai tempat pembuangan sampah yang besar.

Alam yang biasanya ramah, saat ini justru menjadi alam yang ganas. Bumi menjadi tempat yang tidak nyaman lagi untuk ditinggali. Diberbagai tempat terus terjadi bencana alam: gempa, longsor, banjir, tsunami dan berbagai polusi udara, air dan tanah. Semua ini menunjukkan bahwa bumi sedang sakit. Masalah lain yang sering muncul setiap tahun ialah semakin berkurangnya air bersih.

Selain itu persoalan lain juga mulai muncul yang semakin mencemaskan seperti polusi udara yang mengakibatkan berbagai masalah kesehatan, terutama bagi masyarakat miskin karena menyebabkan jutaan kematian dini. Timbulnya berbagai macam penyakit yang mematikan karena ketidakseimbangan lingkungan. Dibidang biotika tumbuhan terjadi kehilangan benih-benih yang asli karena bioteknologi modern yang merekayasa benih guna menghasilkan benih yang kebal dari berbagai infeksi.

Isu yang tidak kalah penting juga terkait perihal lingkungan yaitu, meningkatnya temperatur suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan yang merupakan akibat dari pemanasan global atau global warming. Semua persoalan tersebut menunjukkan betapa kompleks masalah ekologi dan persoalan-persoalan yang melatarbelakanginya. Pemanasan global misalnya disebabkan karena pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi dan gas alam yang melepas gas asam arang (karbon dioksida, CO2) ke atmosfer. Akibatnya atmosfer makin kaya akan gas-gas rumah kaca sehingga menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas matahari yang akan dipancarkan ke bumi. Yang paling besar menyumbang emisi karbon ini adalah aktivitas pembangunan pabrik, pembakaran lahan dan bencana asap yang semuanya merupakan aktivitas manusia. Krisis lingkungan merupakan ancaman terbesar yang dihadapi umat manusia secara kolektif di samping ancaman perang nuklir.

Kerusakan alam tidak hanya menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem tetapi membawa bencana yang besar bagi hidup manusia sendiri. akhir-akhir ini sering terjadi bencana alam yang besar di berbagai tempat dan belahan dunia, termasuk di Indonesia berupa banjir, tanah longsor dan sebagainya. Penyelesaian persoalan ekologis selama ini kurang membawa perubahan yang cukup signifikan bagi perilaku dan mentalitas hidup manusia sehingga berbagai bencana alam terus terjadi. Dimana-mana terus terjadi penebangan hutan secara ilegal, polusi air dari limbah industri dan pertambangan, polusi udara di daerah perkotaan, asap dan kabut dari kebakaran hutan dan perambahan suaka alam/suaka margasatwa secara ilegal.

Indonesia juga misalnya saat ini masih tercatat sebagai negara sumber sampah plastik di laut terbesar kedua di dunia setelah Cina. Setiap tahun, Indonesia sebanyak lebih dari 170 juta ton plastik dibuang ke laut. Hal ini menunjukkan tingkat perusakan lingkungan hidup di tengah kemajuan teknologi modern bukannya makin berkurang melainkan justru meningkat sejalan dengan indeks pertumbuhan masif teknologi abad ke-21. Mengingat betapa bahayanya fenomena ini maka dibutuhkan suatu refleksi yang mendalam dan menyeluruh tentang ekologi. Maka kita dapat mengacu pada Kitab Kejadian bahwa, sejatinya manusia adalah Citra Allah yang memiliki tugas mulia terhadap keberadaan ekologi. Dalam Kitab Kejadian, penciptaan manusia dimaksudkan untuk menjadi rekan kerja Allah dalam merawat dan melestarikan alam ciptaan. Dalam kisah penciptaan yang pertama Kitab Kejadian, Allah menciptakan alam semesta dalam hubungan manusia dengan alam semesta. Setelah menciptakan laki-laki dan perempuan, "Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik” (Kej.1:31).

Kisah penciptaan itu menceritakan bahwa Allah menciptakan manusia karena cinta, sebab manusia diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya (Kej. 1:26). Pernyataan ini menunjukkan martabat tinggi setiap pribadi manusia, yang "bukan hanya sesuatu, tapi seseorang (Laudato-Si art. 65). Kepada manusia, Allah memberi perintah, “Lihatlah kepadamu, Kuberikan segala tumbuhan yang berbiji, segala pepohonan, segala binatang melata, burung di udara dan binatang yang merayap di bumi serta segala tetumbuhan hijau untuk menjadi makananmu” (Kej. 1:29b-30).

Namun, perintah ini tidak memiliki makna bahwa segala sesuatu yang telah diciptakan adalah milik manusia melainkan tetap milik Allah. Karena itu, perintah tersebut mesti dimaknai dalam rangka perutusan manusia sebagai teman sekerja Allah untuk mengusai dan menaklukkan bumi. Maka penciptaan manusia secitra dengan Allah berkaitan dengan panggilannya untuk menjadi co-creator. Melalui refleksi semacam ini kita diajak untuk menyadari bahwa tugas dan panggilan kita sebagai manusia untuk berkuasa atas ciptaan lain berada dalam pengertian memelihara dan melestarikan bukan mengeksploitasi secara sewenang-wenang sehingga menghancurkan ekologi atau alam ciptaan Tuhan. Dengan kata lain manusia memiliki kehendak bebas, namun kehendak bebas yang terbatas.

Marilah kita membangun kesadaran bahwa bumi ini adalah rumah kita bersama, hendaknya sebagaimana rumah tempat tinggal kita sendiri begitu juga kita hendaknya menjaga atau melestarikan bumi, dan tidak hanya demi mencari keuntungan belaka. Kita pikirkan pula para penerus kita yang melanjutkan perjuangan hidup dibumi ini agar tetap terjaga dengan baik, dan menjadikan bumi sebagai rumah yang layak huni. Jangan sampai kita terlena merasa acuh tak acuh, dan merasa hal terebut bukan bagian dari tugas kita dalam rangka melestarikan dan menjaga keseimbangan ekologi. Kita perlu membangun kesadaran ekologi yaitu, sebuah pemahaman yang mendalam atau radikal dan menyeluruh tentang hubungan antara manusia dan lingkungan hidup.

Kesadaran ekologi melibatkan pengakuan akan ketertarikan segala sesuatu dalam ekosistem, dampak tindakan manusia terhadap lingkungan, dan tanggung jawab moral untuk menjaga kelestarian alam. Saudara/saudari sekalian adapun beberapa aspek-aspek kesadaran ekologi sebagai berikut:

1. Pengetahuan tentang Ekologi:

Hendaknya saat ini kita sudah memulai untuk memahami konsep-konsep dasar ekologi, seperti ekosistem, rantai makanan, siklus biogeokimia, keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim meskipun tidak begitu mendalam tetapi kita memiliki kesadaran untuk mengetahuinya. Mengetahui bagaimana ekosistem berfungsi dan bagaimana manusia bergantung pada ekosistem untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

2. Kesadaran akan Dampak Tindakan Manusia:

Menyadari bahwa tindakan manusia, baik individu maupun kolektif, dapat berdampak signifikan terhadap lingkungan hidup. Memahami bagaimana kegiatan manusia, seperti penggunaan energi fosil, deforestasi, polusi, dan konsumsi berlebihan, dapat menyebabkan kerusakan lingkungan.

3. Kepedulian terhadap Lingkungan:

Merasa peduli dan prihatin terhadap masalah-masalah lingkungan, seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi. Memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu untuk melindungi lingkungan.

4. Tanggung Jawab Moral:

Merasa bertanggung jawab secara moral untuk menjaga kelestarian alam demi kesejahteraan bersama dan generasi mendatang. Menyadari bahwa manusia memiliki kewajiban untuk menggunakan sumber daya alam secara bijaksana dan menghindari tindakan yang dapat merusak lingkungan.

5. Perilaku Ramah Lingkungan:

Kita juga hendaknya menerapkan perilaku ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari mulai dari lingkungan rumah kita sendiri, seperti mengurangi penggunaan energi, menghemat air, mengurangi sampah, dan mendukung produk-produk ramah lingkungan. Berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan pelestarian lingkungan, seperti penanaman pohon, pembersihan sampah, dan kampanye lingkungan, dan banyak hal-hal positif lainnya yang dapat kita lakukan.

Upaya memperjuangkan keutuhan alam ciptaan harus berjalan beriringan dengan upaya memperjuangkan kemanusiaan; tidak ada ekologi tanpa antropologi yang memadai (LS, 118). Atau, sebagaimana diungkapkan Paus Benediktus XVI, perkembangan kemanusiaan yang integral tidak dapat dipisahkan dari kewajiban yang muncul dari relasi manusia dengan alam lingkungannya. Kita semestinya menyadari bahwa alam harus dilihat sebagai rahmat Allah yang dianugerahkan kepada semua manusia, dan ketika memanfaatkan hasil alam, kepentingan semua manusia perlu dipertimbangkan, terutama dalam hal ini untuk generasi mendatang.

Tuhanlah pencipta segala sesuatu, namun demikian kepada manusia Tuhan berkenan membagikan kekuasaan-Nya. Oleh Tuhan, manusia dianugerahi (dipinjami) kekuatan nyata untuk mengelola bumi. Kekuasaan untuk mengelola ini diberikan atau didelegasikan oleh Tuhan, dan kekuasaan ini bukanlah milik manusia. Sama seperti Tuhan mengatur ciptaan-Nya dengan penuh kasih, sudah sepantasnya pula manusia berlaku sama seperti Tuhan. Pada mulanya hanya ada kekacauan, namun dengan penuh kasih Tuhan mengatur kekacauan itu menjadi sebuah keharmonisan. 

Dalam keharmonisan itu setiap ciptaan mempunyai fungsi dan perannya masing-masing, dan setiap ciptaan mendapatkan tempat dalam keseluruhan alam semesta yang menakjubkan ini. Ciptaan itu baik, sungguh sangat baik sebagaimana diinginkan dan dimaksudkan oleh Allah. Alam semesta ini tidaklah dilahirkan dalam peperangan, pertempuran atau pertentangan, melainkan tanpa kekerasan dan tanpa perjuangan, dan diciptakan melalui sabda Allah dan perbuatan ilahi. 

Demikian juga manusia dari asal usulnya bukanlah “serigala bagi yang lain” (Hobbes), melainkan pada asal mulanya diciptakan dalam keadaan baik, yang satu bertanggung jawab terhadap yang lain dan terhadap semua ciptaan. Bumi adalah rumah bagi semua makhluk. Bumi tidak secara eksklusif diperuntukkan bagi manusia, tetapi juga adalah tempat tinggal atau rumah bagi semua ciptaan Allah. Manusia bukanlah satu-satunya yang diberkati Allah; burung-burung dan ikan dan setiap benda ciptaan lainpun diberkati oleh Allah. Dasar spiritualitas inilah yang kiranya harus menjiwai cara hidup orang Katolik dalam relasinya dengan ciptaan lain, yaitu spiritualitas yang menaruh hormat pada martabat manusia dan ciptaan lain, dan terutama penghormatan kepada Allah sebagai pencipta alam semesta.

Iman kepada Yesus mendesak setiap orang Katolik untuk memperjuangkan kemanusiaan dan keutuhan ciptaan. Hal tersebut merupakan implikasi etis iman kepada Yesus Kristus. Sebagaimana Yesus yang semasa hidup-Nya menunjukkan belas kasih, sudah sepantasnya para pengikut-Nya menunjukkan sikap yang sama yaitu dengan cinta kasih untuk mengasihi alam ciptaan dan memiliki kesadaran ekologi. Untuk itu manusia ikut mengambil bagian dalam kasih Allah, bukan dengan mengeksploitasi bumi, melainkan berusaha mentransformasi dunia ciptaan-Nya yang merupakan ungkapan kasih Ilahi kearah yang lebih baik dan tepat guna. Kasih Ilahi mentransformasi dunia agar dunia tertuju pada kemuliaan Allah. Demikian juga orang beriman tidak akan lengkap jika mengasihi Allah, dan sesama jika tidak turut serta untuk mengasihi dan menjaga ekologi demi kebaikan dan keberlangsungan hidup Bersama kini dan seterusnya sampai kita menunggu kedatangan Tuhan yang kedua kalinya sebagai hakim yang adil dan berbelas kasih pada orang yang mampu mencintai diri-Nya, sesama, dan alam ciptaan yang indah ini, yang tiada lain ialah, sebuah karya yang berakar dan tumbuh dari cinta kasih Allah. Saudara/saudari sekalian marilah kita membangun kesadaran ekologi itu mulai dari sekarang sebelum semuanya menjadi semakin hancur dan terlambat. Dimulai dari diri kita sendiri, oleh kita, dan untuk kita. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang, kapan lagi.

Semoga renungan ini semakin menyadarkan kita, dan membangkitkan semangat dalam mengaktualisasikan iman Katolik ditengah-tengah dunia. Karena iman tanpa perbuatan hakikatnya mati (Yak 2:17). Demi harmoni keberlangsungan hidup bersama, dan hidup harmonis bersahabat dengan alam. Semoga demikian. Amin...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

  NARKOBA ? Narkoba, singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya, merupakan masalah serius yang mengancam generasi muda dan masa depan bangsa. Dampak negatif narkoba tidak hanya merusak kesehatan fisik dan mental individu, tetapi juga menghancurkan kehidupan sosial dan ekonomi keluarga serta masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk memahami bahaya narkoba dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang efektif.   Bahaya Narkoba bagi Kesehatan   Narkoba memiliki efek merusak pada hampir semua organ tubuh. Penggunaan narkoba dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan serius, seperti:   - Kerusakan Otak: Narkoba dapat merusak sel-sel otak dan mengganggu fungsi kognitif, seperti memori, konsentrasi, dan kemampuan belajar. - Penyakit Jantung: Narkoba dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, seperti serangan jantung, gagal jantung, dan aritmia. - Kerusakan Hati: Narkoba dapat menyebabkan kerusakan hati, seperti hepatitis dan sirosis...
Filsafat René Descartes tentang Tuhan René Descartes, seorang filsuf dan matematikawan Prancis abad ke-17, memiliki pandangan yang khas dan berpengaruh tentang Tuhan. Dalam karyanya, terutama Meditations on First Philosophy, Descartes menggunakan argumen-argumen filosofis untuk membuktikan keberadaan Tuhan dan menjelaskan sifat-sifat-Nya. Ajaran Descartes tentang Tuhan 1. Keberadaan Tuhan sebagai Kepastian: Descartes menggunakan argumen ontologis dan argumen kosmologis untuk membuktikan keberadaan Tuhan. - Argumen Ontologis: Descartes berpendapat bahwa ide tentang Tuhan sebagai makhluk yang sempurna secara inheren mengandung keberadaan. Karena kesempurnaan mencakup keberadaan, maka Tuhan pasti ada. Jika Tuhan tidak ada, maka Ia tidak akan menjadi makhluk yang sempurna. - Argumen Kosmologis: Descartes berpendapat bahwa segala sesuatu pasti memiliki penyebab. Karena manusia adalah makhluk yang tidak sempurna dan terbatas, maka ia tidak mungkin menjadi penyebab keberadaannya sendiri. Oleh...