MISTIK KOSMIK ST. FRANSISKUS ASSISI
Visi sakramental Kristiani tentang ciptaan dapat mencegah
ide yang
memisahkan Allah dan ciptaan (dualisme), roh dan materi,
badan dan
jiwa, langit dan bumi. Gagasan sakramental ini sesungguhnya
berakar
dalam Kitab Suci, khususnya Kitab Mazmur. Ciptaan Allah
menyingkapkan
dan mencerminkan kebesaran dan keluhuran Pencipta, keindahan
dan kelembutan-Nya. Segala ciptaan merupakan penyataan diri
Allah
dan komunikasi diri Allah kepada manusia. Dengan demikian
manusia
dapat berjumpa, mengalami dan mengkotemplasikan Allah dalam
dan melalui ciptaan-Nya. Sayangnya, sepanjang millenium pertama, warisan
spiritual yang bersumber pada Kitab Suci itu, menghilang
dari praksis
hidup beriman serta praksis kesucian Kristiani. G.K.
Chesterton, sebagaimana
dikutip Leonardo Boff, mengingatkan kita akan kekosongan
dimensi itu dalam konsep kesucian kristiani.24 Pada periode
millennium
pertama kekristenan, kesucian berarti menjauhi dunia dan
sesama. Para
rahib pergi ke padang gurun nan sepi untuk mendekatkan diri
kepada
Allah. Mendekati Allah berarti menjauhi dunia (fuga mundi).
Menurut Leonardo Boff, St. Fransiskus mengakhiri model
pencarian
kesucian seperti ini. Manusia dapat berjumpa dengan Allah
dan mewujudkan
kesucian hidup tidak lagi dengan fuga mundi, tetapi
dengan
masuk ke dalam dunia dan berjumpa dengan manusia serta alam
ciptaan.
St. Fransiskus menawarkan suatu model kesucian kosmik dengan
mengkotemplasikan
Allah dan keagungan-Nya, rahmat dan kemuliaan-Nya
dalam alam raya serta ciptaan yang merupakan sakramen Allah
dan
Kristus.25 Kesucian dan spiritualitas kosmik St. Fransiskus
merupakan
sintesa dari apa yang sudah hilang dalam tradisi Kristiani,
yakni berjumpa
dengan Allah, Yesus Kristus dan Roh Kudus dalam ciptaan.
St. Fransiskus menandai suatu langkah baru, dengan
meninggalkan
model-model pertobatan dan askese yang keras di padang
gurun, menuju suatu pertobatan dan askese yang penuh darah dan lagu, dengan
sukacita,
tarian, hati dan puisi. St. Fransiskus mengalami Allah dalam
segala
sesuatu yang disapanya adalah saudara dan saudari.26
Relasi St. Fransiskus dengan alam, amat relevan bagi
refleksi teologi
ekologi. Leonardo Boff menunjukkan tiga hal pokok untuk
menjelaskan
simpati dan sinergi dalam diri St. Fransiskus dengan
ciptaan. Ketiga hal
itu adalah, pertama, St. Fransiskus seorang penyair
ontologis; kedua, ia
sadar akan akan asal-usul yang sama dari segala sesuatu,
yakni Allah;
ketiga, St. Fransiskus menjalankan hidup dalam kemiskinan
radikal.
St. Fransiskus dikenal sebagai seorang “penyanyi Tuhan.”
Dalam
dirinya, eros merupakan kekuatan dan hasrat akan
hidup serta keindahan,
yang dihidupi oleh agape, sebagai kasih yang memberi
diri, bebas
dari cinta diri dan pemilikan, dan terbuka terhadap yang
absolut. Dalam
diri St. Fransiskus, eros tidak saja disublimasi,
tetapi diperdalam dan
diperluas untuk mencapai dasarnya dalam sesuatu yang
menyenangkan
dan menggembirakan, yakni Allah, sumber kasih (agape).
St. Fransiskus
melihat dan menghargai segala sesuatu, sebagai tanda
kehadiran Allah,
sakramen, rahmat dan pemberian diri-Nya. Karena itu, St.
Fransiskus
dapat mempersonalisasi segala sesuatu dan menyebutnya
sebagai saudara
dan saudari.27
St. Fransiskus tidak berhenti pada sikap mengakui dan
menghargai
ciptaan sebagai sakramen Allah. Ciptaan bukan hanya sarana
atau
instrumen untuk mencapai Allah. Ia menerima dan mengakui
alam
dalam keberbedaannya, dengan demikian dia mengakui dan
menyambut ciptaan sebagai sesuatu yang berharga di hadapan Allah Pencipta,
bebas
dari hasrat memiliki dan sekedar menjadikannya alat menuju
Allah.28
Sikap St. Fransiskus terhadap ciptaan terutama dicirikan
oleh pengalamannya
akan Allah, yang dilukiskannya dalam kata-kata Deus meus
et omnia —yang dapat diterjemahkan— Tuhanku dan
segalanyaku.29 Ia
mengalami segala sesuatu dalam Allah dan mengalami Allah
dalam
segala sesuatu.
St. Fransiskus tidak menolak pemanfaatan sumber-sumber alam
untuk kebutuhan manusia. Tetapi dia menegaskan bahwa
pemanfaatan
sumber-sumber alam harus dengan rasa hormat dan syukur. Alam
semesta bukanlah hanya bahan mentah bagi manusia, tetapi
saudara
dan saudari, karena setiap ciptaan bernilai, juga di hadapan
Allah. Nilai
yang dimaksudkan St. Fransiskus bukanlah nilai ekonomis,
instrumental
atau utilitarian, tetapi teologis dan estetis. Nilai ciptaan
menurut dia
terungkap dalam kesaling-terkaitan antarciptaan dan dengan
Allah.
Itulah sebabnya mengapa St. Fransiskus bersikap lemah lembut
serta
hormat terhadap ciptaan.
Semua ciptaan itu suci dan kesucian ciptaan menurut St.
Fransiskus
dipertegas oleh peristiwa inkarnasi Allah. Dalam inkarnasi
Allah menerima
bagi diri-Nya eksistensi manusiawi.30 Pengalaman yang
mendalam
tentang Allah dalam segala sesuatu mengubah diri St.
Fransiskus secara
total. Sebagaimana dituliskan oleh seorang penulis riwayat
hidupnya
bahwa St. Fransiskus, telah menjadi manusia baru yang telah
diberikan
surga kepada dunia.31
Dengan demikian St. Fransiskus memperkenalkan suatu cara
berada
baru di dunia: berada di dunia dalam kesatuan dengan segala
ciptaan.32
Manusia tidak berada di atas ciptaan, untuk menguasai dan
memilikinya.
Manusia berada bersama ciptaan, untuk mencintai dan hidup
bersama
ciptaan sebagai saudara dan saudari. St. Fransiskus
sesungguhnya
memulai suatu cara hidup baru di dunia, yang sekarang ini
dipromosikan
oleh Arne Naes dengan nama ecosophy.
Kesadaran diri St. Fransiskus sebagai saudara dari segala
ciptaan
berakar pada sakramentalitas dari ciptaan. Ciptaan
menghadirkan bagi
St. Fransiskus, Sang Pencipta. Bersama ciptaan, di hadapan
Sang Pencipta,
St. Fransiskus menerima diri sebagai sesama ciptaan. Kidung
Saudara
Matahari (The Canticle of Brother Sun),
merupakan karya puitis-ontologis
yang mengungkapkan kekaguman St. Fransiskus akan semua
ciptaan.
Semua ciptaan diterimanya dalam satu keluarga ciptaan, dari
Bapa yang
satu dan sama, Sang Pencipta. Dalam Kidung Saudara
Matahari, St.
Fransiskus menghadirkan diri sebagai seorang penyair
ontologis dan
seorang mistikus-kosmis yang mengalami transfigurasi ciptaan
menjadi
“saudara dan saudari.”
Proses tersebut terjadi dalam diri St. Fransiskus sebagai
bagian utuh
dari pertobatannya, sebagai proses pemurnian dalam kesetiaan
sempurna
kepada Injil Yesus Kristus, sampai dirinya berubah dan
matanya
terbuka.33 St. Fransiskus melihat segala sesuatu dalam
keterhubungan
secara komplementer, dalam suatu desain semesta yang
disebut:
ekosistem, suatu keluarga alam semesta. Ciptaan lain
berharga dan bernilai,
karena mereka adalah saudara-saudari kita. Manusia dan
ciptaan
dibingkai dalam suatu ekosistem keutuhan ciptaan.34
St. Fransiskus sungguh mengalami dan menyadari bahwa
asal-usul
segala sesuatu adalah persekutuan Triniter. Asal usul segala
sesuatu adalah
hati Bapa, melalui Putera dan kekuatan Roh Kudus, yang
menjadikan
dan menciptakan semua ciptaan. Itulah yang dimaksudkan
dengan asalusul
Triniter segala sesuatu.35 Kesatuan ciptaan dalam alam
semesta
berakar dalam kesatuan Allah Tritunggal, sebagai Pencipta (perichoresis).
Inilah dasar teologis kesadaran dan pengalaman St.
Fransiskus akan
kehadiran abadi Allah dalam ciptaan.36 Mistisisme kosmik St.
Fransiskus
mengalir dari perjumpaan dan pengalamannya akan Allah
Tritunggal
dalam ciptaan.37 Segala sesuatu bersumber pada Allah dan
berada (dan
bersaudara) dalam Dia.
Berlandaskan pada keyakinan bahwa asal segala sesuatu adalah
Allah, maka semua ciptaan adalah saudara dan saudari, di
bawah satu atap dari rumah Bapa bersama (ekologi). “Fransiskus tidak takut pada
apapun. St.Fransiskus memahami manusia tidak dari aspek
kekhasannya
(keunikannya) yang membedakan manusia dari ciptaan lainnya,
tetapi dari asal-usul segala sesuatu yang membuat semuanya
bersaudara.
Manusia dalam pandangan St. Fransiskus, bukan hanya makhluk
rasional,
tetapi makhluk ekologis-kosmik, saudara-saudari dari Ibu
Bumi, rahim
semua ciptaan. Ketika bernyanyi dengan ciptaan, sebagaimana
didendangkannya
dalam Kidung Saudara Matahari, St. Fransiskus tidak
bernyanyi melalui ciptaan, dalam arti menggunakan
(instrumentalisasi),
tetapi bernyanyi dengan mendengar kidung yang didendangkan
ciptaan
kepada Allah. Para saudari burung memuji Pencipta mereka.
Marilah
kita ke sana bergabung dengan mereka memuji dan menyanyikan
offisi
Ilahi.”38
Kidung Saudara Matahari, merupakan sintesa dan
kristalisasi kharisma
St. Fransiskus sebagai penyair ontologis. Di dalamnya St.
Fransiskus
mengekpresikan mistisisme kosmik, serta kasihnya akan
kemiskinan.
Dalam mistisisme kosmik St. Fransiskus, semua ciptaan secara
intrinsik
dipersatukan oleh kenyataan eksistensialnya sebagai ciptaan.
Selain
kesatuan intrinsik tersebut, St. Fransiskus melangkah lebih
jauh menelusuri
asal-usul segala sesuatu dalam Allah, yang menciptakan
segala
sesuatu ex nihilo. Ciptaan tidak menjadikan dan
menciptakan dirinya
sendiri. Makhluk tidak punya alasan intrinsik untuk berada.
Kesadaran
akan realitas ini, bahwa segala sesuatu berasal dari Allah,
membantu
kita untuk memahami kemiskinan St. Fransiskus dan
pengakuannya
akan Allah sebagai, Deus meus et omnia. Kemiskinan
bagi St. Fransiskus
adalah buah dari kesadaran eksistensialnya bahwa dirinya
sebagai
manusia tidak memiliki alasan berada dari dalam diri
sendiri, selain
hanya kasih Allah saja.39bebasan untuk mencintai dan
menghargai segala sesuatu sebagai saudara
dan saudari. St. Fransiskus menyadari bahwa keinginan untuk
memiliki
berakar dalam keinginan untuk menguasai dan mengontrol
segala
sesuatu demi kepentingan sendiri. Kemiskinan merupakan
komitmen
eksistensial yang bersumber pada pengalaman akan Allah,
orang lain,
diri sendiri dan ciptaan. Pengalaman akan Allah itu
membangkitkan
dalam dirinya suatu cara berada baru di dunia, yakni bebas
dari segala
sesuatu agar dapat membebaskan segala sesuatu, serta menjadi
diri
sendiri, tanpa keinginan untuk menguasai dan menempatkan
yang lain
di bawah kekuasaan. Kemiskinan St. Fransiskus disertai oleh
kebajikan
asketisme dan pengekangan diri.40
Karena bebas dari segala sesuatu, St. Fransiskus pun dapat
bebas
berhubungan dengan segala sesuatu dalam kesatuan ontologis
sebagai
ciptaan. Kemiskinan sebagaimana dipahami St. Fransiskus,
mempersatukan
segala sesuatu sebagai saudara-saudari, karena dalam dasar
keberadaannya
semuanya saling bergantung dan melengkapi. Sebagaimana
dikatakan St. Agustinus, “Kita tidak menciptakan diri kita
sendiri,
tetapi diciptakan Allah yang abadi.”41 Dalam kemiskinan yang
fundamental
ini, semua ciptaan setara. Dengan menekankan kesetaraan,
tidak
berarti bahwa St. Fransiskus mengingkari peran khas manusia
dalam
alam ciptaan. Dalam terang inkarnasi. St. Fransiskus
menegaskan keluhuran
martabat manusia. Bagi St. Fransiskus, inkarnasi (Allah
menjadi
manusia) berarti bahwa manusia di tengah ciptaan merupakan
sasaran
pemberian diri Allah secara penuh.
Inkarnasi bagi St. Fransiskus adalah juga model kemiskinan
absolut
(kenosis). Sebagaimana Yesus Kristus, yang tidak
memiliki apa-apa agar
dapat mengasihi semua, demikian juga St. Fransiskus,
menghidupi model
kemiskinan yang sama seperti Tuhan dan Gurunya. Sebagaimana
sudah
dikatakan sebelumnya, hasrat memiliki berakar pada keinginan
menguasai
dan mengontrol sesuai kepentingan sendiri. Hal itu
seringkali
menjadi pemicu terjadinya ketidakadilan, konflik dan
kekerasan. Sebaliknya,
kemiskinan menuntun manusia menuju pembebasan diri dari
hasrat menguasai dan mengontrol, yang umumnya terungkap
dalam
hasrat memiliki baik sesama manusia maupun ciptaan.42 Kemiskinan
lantas berarti hormat dan syukur dalam memperlakukan ciptaan
lainnya,
dalam semangat kasih dan kelembutan. Kemiskinan mengingatkan
manusia bahwa manusia bukan sekedar makhluk sosial dan
rasional,
tetapi juga makhluk ekologis.43
Ada beberapa hal yang bisa dikemukakan sebagai kesimpulan
dari
tulisan ini. Pertama, Allah adalah satu-satunya Pencipta.
Manusia
adalah ciptaan dengan martabat sebagai “gambar dan rupa
Allah.”
Status ini mengandung konsekuensi bahwa manusia adalah
partner
Allah dalam memelihara dan menjaga ciptaan. Manusia adalah
representasi
Allah di hadapan ciptaan. Manusia bukan penguasa, dan
memperlakukan ciptaan secara eksploitatif serta destruktif
merupakan
pengingkaran terhadap mandat awali dan merendahkan martabat
luhur
manusia itu sendiri.
Teologi Kristen mempertegas landasan teologis bagi
kepedulian
pada ciptaan, sebagaimana direfleksikan oleh St. Paulus,
yang meng-hubungkan kedudukan Yesus Kristus sebagai inti pokok dalam iman
Kristiani, serta konsekuensi moralnya pada sikap terhadap
ciptaan.
Dalam tradisi kehidupan Kristiani, figur St. Fransiskus
Assisi adalah
pribadi yang dengan tepat memahami dan mengelaborasi
tuntutan iman
(teologis) itu pada sikap dan kehidupan nyata.
Bagi orang Kristen, kepedulian pada lingkungan adalah
tuntutan
iman. Kesejatian iman Kristiani pada orang percaya antara
lain terungkap
atau terwujud dalam kepedulian nyata pada lingkungan hidup.
Komentar
Posting Komentar