Jumat, 13 Maret 2026

MISTIK KOSMIK ST. FRANSISKUS ASISI



Visi sakramental Kristiani tentang ciptaan dapat mencegah ide yang memisahkan Allah dan ciptaan (dualisme), roh dan materi, badan dan jiwa, langit dan bumi. Gagasan sakramental ini sesungguhnya berakar dalam Kitab Suci, khususnya Kitab Mazmur. Ciptaan Allah menyingkapkan dan mencerminkan kebesaran dan keluhuran Pencipta, keindahan dan kelembutan-Nya. Segala ciptaan merupakan penyataan diri Allah dan komunikasi diri Allah kepada manusia. Dengan demikian manusia dapat berjumpa, mengalami dan mengkotemplasikan Allah dalam dan melalui ciptaan-Nya. Sayangnya, sepanjang millenium pertama, warisan spiritual yang bersumber pada Kitab Suci itu, menghilang dari praksis hidup beriman serta praksis kesucian Kristiani. G.K. Chesterton, sebagaimana dikutip Leonardo Boff, mengingatkan kita akan kekosongan dimensi itu dalam konsep kesucian kristiani. 

Pada periode millennium pertama kekristenan, kesucian berarti menjauhi dunia dan sesama. Para rahib pergi ke padang gurun nan sepi untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mendekati Allah berarti menjauhi dunia (fuga mundi). Menurut Leonardo Boff, St. Fransiskus mengakhiri model pencarian kesucian seperti ini. Manusia dapat berjumpa dengan Allah dan mewujudkan kesucian hidup tidak lagi dengan fuga mundi, tetapi dengan masuk ke dalam dunia dan berjumpa dengan manusia serta alam ciptaan.

St. Fransiskus menawarkan suatu model kesucian kosmik dengan mengkotemplasikan Allah dan keagungan-Nya, rahmat dan kemuliaan-Nya dalam alam raya serta ciptaan yang merupakan sakramen Allah dan Kristus. Kesucian dan spiritualitas kosmik St. Fransiskus merupakan sintesa dari apa yang sudah hilang dalam tradisi Kristiani, yakni berjumpa dengan Allah, Yesus Kristus dan Roh Kudus dalam ciptaan.

St. Fransiskus menandai suatu langkah baru, dengan meninggalkan model-model pertobatan dan askese yang keras di padang gurun, menuju suatu pertobatan dan askese yang penuh darah dan lagu, dengan sukacita, tarian, hati dan puisi. St. Fransiskus mengalami Allah dalam segala sesuatu yang disapanya adalah saudara dan saudari. Relasi St. Fransiskus dengan alam, amat relevan bagi refleksi teologi ekologi. Leonardo Boff menunjukkan tiga hal pokok untuk menjelaskan simpati dan sinergi dalam diri St. Fransiskus dengan ciptaan. Ketiga hal itu adalah, pertama, St. Fransiskus seorang penyair ontologis; kedua, ia sadar akan akan asal-usul yang sama dari segala sesuatu, yakni Allah; ketiga, St. Fransiskus menjalankan hidup dalam kemiskinan radikal. St. Fransiskus dikenal sebagai seorang “penyanyi Tuhan.” Dalam dirinya, eros merupakan kekuatan dan hasrat akan hidup serta keindahan, yang dihidupi oleh agape, sebagai kasih yang memberi diri, bebas dari cinta diri dan pemilikan, dan terbuka terhadap yang absolut. 

Dalam diri St. Fransiskus, eros tidak saja disublimasi, tetapi diperdalam dan diperluas untuk mencapai dasarnya dalam sesuatu yang menyenangkan dan menggembirakan, yakni Allah, sumber kasih (agape). St. Fransiskus melihat dan menghargai segala sesuatu, sebagai tanda kehadiran Allah, sakramen, rahmat dan pemberian diri-Nya. Karena itu, St. Fransiskus dapat mempersonalisasi segala sesuatu dan menyebutnya sebagai saudara dan saudari.

St. Fransiskus tidak berhenti pada sikap mengakui dan menghargai ciptaan sebagai sakramen Allah. Ciptaan bukan hanya sarana atau instrumen untuk mencapai Allah. Ia menerima dan mengakui alam dalam keberbedaannya, dengan demikian dia mengakui dan menyambut ciptaan sebagai sesuatu yang berharga di hadapan Allah Pencipta, bebas dari hasrat memiliki dan sekedar menjadikannya alat menuju Allah.

Sikap St. Fransiskus terhadap ciptaan terutama dicirikan oleh pengalamannya akan Allah, yang dilukiskannya dalam kata-kata Deus meus et omnia —yang dapat diterjemahkan— Tuhanku dan segalanyaku. Ia mengalami segala sesuatu dalam Allah dan mengalami Allah dalam segala sesuatu. St. Fransiskus tidak menolak pemanfaatan sumber-sumber alam untuk kebutuhan manusia. Tetapi dia menegaskan bahwa pemanfaatan sumber-sumber alam harus dengan rasa hormat dan syukur. Alam semesta bukanlah hanya bahan mentah bagi manusia, tetapi saudara dan saudari, karena setiap ciptaan bernilai, juga di hadapan Allah. 

St. Fransiskus melihat bukanlah nilai ekonomis, instrumental atau utilitarian, tetapi teologis dan estetis. Nilai ciptaan menurut dia terungkap dalam kesaling-terkaitan antarciptaan dan dengan Allah. Itulah sebabnya mengapa St. Fransiskus bersikap lemah lembut serta hormat terhadap ciptaan. Semua ciptaan itu suci dan kesucian ciptaan menurut St. Fransiskus dipertegas oleh peristiwa inkarnasi Allah. Dalam inkarnasi Allah menerima bagi diri-Nya eksistensi manusiawi.  Pengalaman yang mendalam tentang Allah dalam segala sesuatu mengubah diri St. Fransiskus secara total. Sebagaimana dituliskan oleh seorang penulis riwayat hidupnya bahwa St. Fransiskus, telah menjadi manusia baru yang telah diberikan surga kepada dunia.

Dengan demikian St. Fransiskus memperkenalkan suatu cara berada baru di dunia: berada di dunia dalam kesatuan dengan segala ciptaan. Manusia tidak berada di atas ciptaan, untuk menguasai dan memilikinya. Manusia berada bersama ciptaan, untuk mencintai dan hidup bersama ciptaan sebagai saudara dan saudari. St. Fransiskus sesungguhnya memulai suatu cara hidup baru di dunia, yang sekarang ini dipromosikan oleh Arne Naes dengan nama ecosophy.

Kesadaran diri St. Fransiskus sebagai saudara dari segala ciptaan berakar pada sakramentalitas dari ciptaan. Ciptaan menghadirkan bagi St. Fransiskus, Sang Pencipta. Bersama ciptaan, di hadapan Sang Pencipta, St. Fransiskus menerima diri sebagai sesama ciptaan. Kidung Saudara Matahari (The Canticle of Brother Sun), merupakan karya puitis-ontologis yang mengungkapkan kekaguman St. Fransiskus akan semua ciptaan. Semua ciptaan diterimanya dalam satu keluarga ciptaan, dari Bapa yang satu dan sama, Sang Pencipta. Dalam Kidung Saudara Matahari, St. Fransiskus menghadirkan diri sebagai seorang penyair ontologis dan seorang mistikus-kosmis yang mengalami transfigurasi ciptaan menjadi “saudara dan saudari.”

Proses tersebut terjadi dalam diri St. Fransiskus sebagai bagian utuh dari pertobatannya, sebagai proses pemurnian dalam kesetiaan sempurna kepada Injil Yesus Kristus, sampai dirinya berubah dan matanya terbuka. St. Fransiskus melihat segala sesuatu dalam keterhubungan secara komplementer, dalam suatu desain semesta yang disebut: ekosistem, suatu keluarga alam semesta. Ciptaan lain berharga dan bernilai, karena mereka adalah saudara-saudari kita. Manusia dan ciptaan dibingkai dalam suatu ekosistem keutuhan ciptaan.

St. Fransiskus sungguh mengalami dan menyadari bahwa asal-usul segala sesuatu adalah persekutuan Triniter. Asal usul segala sesuatu adalah hati Bapa, melalui Putera dan kekuatan Roh Kudus, yang menjadikan dan menciptakan semua ciptaan. Itulah yang dimaksudkan dengan asalusul Triniter segala sesuatu. Kesatuan ciptaan dalam alam semesta berakar dalam kesatuan Allah Tritunggal, sebagai Pencipta (perichoresis).

Inilah dasar teologis kesadaran dan pengalaman St. Fransiskus akan kehadiran abadi Allah dalam ciptaan. Mistisisme kosmik St. Fransiskus mengalir dari perjumpaan dan pengalamannya akan Allah Tritunggal dalam ciptaan.  Segala sesuatu bersumber pada Allah dan berada (dan bersaudara) dalam Dia. Berlandaskan pada keyakinan bahwa asal segala sesuatu adalah Allah, maka semua ciptaan adalah saudara dan saudari, di bawah satu atap dari rumah Bapa bersama (ekologi). “Fransiskus tidak takut pada apapun. St.Fransiskus memahami manusia tidak dari aspek kekhasannya (keunikannya) yang membedakan manusia dari ciptaan lainnya, tetapi dari asal-usul segala sesuatu yang membuat semuanya bersaudara.

Manusia dalam pandangan St. Fransiskus, bukan hanya makhluk rasional, tetapi makhluk ekologis-kosmik, saudara-saudari dari Ibu Bumi, rahim semua ciptaan. Ketika bernyanyi dengan ciptaan, sebagaimana didendangkannya dalam Kidung Saudara Matahari, St. Fransiskus tidak bernyanyi melalui ciptaan, dalam arti menggunakan (instrumentalisasi), tetapi bernyanyi dengan mendengar kidung yang didendangkan ciptaan kepada Allah. Para saudari burung memuji Pencipta mereka. Marilah kita ke sana bergabung dengan mereka memuji dan menyanyikan offisi Ilahi.

Kidung Saudara Matahari, merupakan sintesa dan kristalisasi kharisma St. Fransiskus sebagai penyair ontologis. Di dalamnya St. Fransiskus mengekpresikan mistisisme kosmik, serta kasihnya akan kemiskinan. Dalam mistisisme kosmik St. Fransiskus, semua ciptaan secara intrinsik dipersatukan oleh kenyataan eksistensialnya sebagai ciptaan. Selain kesatuan intrinsik tersebut, St. Fransiskus melangkah lebih jauh menelusuri asal-usul segala sesuatu dalam Allah, yang menciptakan segala sesuatu ex nihilo. Ciptaan tidak menjadikan dan menciptakan dirinya sendiri. Makhluk tidak punya alasan intrinsik untuk berada. Kesadaran akan realitas ini, bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, membantu kita untuk memahami kemiskinan St. Fransiskus dan pengakuannya akan Allah sebagai, Deus meus et omnia

Kemiskinan bagi St. Fransiskus adalah buah dari kesadaran eksistensialnya bahwa dirinya sebagai manusia tidak memiliki alasan berada dari dalam diri sendiri, selain hanya kasih Allah saja. bebasan untuk mencintai dan menghargai segala sesuatu sebagai saudara dan saudari. St. Fransiskus menyadari bahwa keinginan untuk memiliki berakar dalam keinginan untuk menguasai dan mengontrol segala sesuatu demi kepentingan sendiri. Kemiskinan merupakan komitmen eksistensial yang bersumber pada pengalaman akan Allah, orang lain, diri sendiri dan ciptaan. Pengalaman akan Allah itu membangkitkan dalam dirinya suatu cara berada baru di dunia, yakni bebas dari segala sesuatu agar dapat membebaskan segala sesuatu, serta menjadi diri sendiri, tanpa keinginan untuk menguasai dan menempatkan yang lain di bawah kekuasaan. Kemiskinan St. Fransiskus disertai oleh kebajikan asketisme dan pengekangan diri.

Karena bebas dari segala sesuatu, St. Fransiskus pun dapat bebas berhubungan dengan segala sesuatu dalam kesatuan ontologis sebagai ciptaan. Kemiskinan sebagaimana dipahami St. Fransiskus, mempersatukan segala sesuatu sebagai saudara-saudari, karena dalam dasar keberadaannya semuanya saling bergantung dan melengkapi. Sebagaimana dikatakan St. Agustinus, “Kita tidak menciptakan diri kita sendiri, tetapi diciptakan Allah yang abadi.  Dalam kemiskinan yang fundamental ini, semua ciptaan setara. Dengan menekankan kesetaraan, tidak berarti bahwa St. Fransiskus mengingkari peran khas manusia dalam alam ciptaan. Dalam terang inkarnasi. St. Fransiskus menegaskan keluhuran martabat manusia. Bagi St. Fransiskus, inkarnasi (Allah menjadi manusia) berarti bahwa manusia di tengah ciptaan merupakan sasaran pemberian diri Allah secara penuh.

Inkarnasi bagi St. Fransiskus adalah juga model kemiskinan absolut (kenosis). Sebagaimana Yesus Kristus, yang tidak memiliki apa-apa agar dapat mengasihi semua, demikian juga St. Fransiskus, menghidupi model kemiskinan yang sama seperti Tuhan dan Gurunya. Sebagaimana sudah dikatakan sebelumnya, hasrat memiliki berakar pada keinginan menguasai dan mengontrol sesuai kepentingan sendiri. Hal itu seringkali menjadi pemicu terjadinya ketidakadilan, konflik dan kekerasan. Sebaliknya, kemiskinan menuntun manusia menuju pembebasan diri dari hasrat menguasai dan mengontrol, yang umumnya terungkap dalam hasrat memiliki baik sesama manusia maupun ciptaan. Kemiskinan lantas berarti hormat dan syukur dalam memperlakukan ciptaan lainnya, dalam semangat kasih dan kelembutan. Kemiskinan mengingatkan manusia bahwa manusia bukan sekedar makhluk sosial dan rasional, tetapi juga makhluk ekologis.

Ada beberapa hal yang bisa dikemukakan sebagai kesimpulan dari tulisan ini. Pertama, Allah adalah satu-satunya Pencipta. Manusia adalah ciptaan dengan martabat sebagai “gambar dan rupa Allah.” Status ini mengandung konsekuensi bahwa manusia adalah partner Allah dalam memelihara dan menjaga ciptaan. Manusia adalah representasi Allah di hadapan ciptaan. Manusia bukan penguasa, dan memperlakukan ciptaan secara eksploitatif serta destruktif merupakan pengingkaran terhadap mandat awali dan merendahkan martabat luhur manusia itu sendiri.

Teologi Kristen mempertegas landasan teologis bagi kepedulian pada ciptaan, sebagaimana direfleksikan oleh St. Paulus, yang meng-hubungkan kedudukan Yesus Kristus sebagai inti pokok dalam iman Kristiani, serta konsekuensi moralnya pada sikap terhadap ciptaan. Dalam tradisi kehidupan Kristiani, figur St. Fransiskus Asisi adalah pribadi yang dengan tepat memahami dan mengelaborasi tuntutan iman (teologis) itu pada sikap dan kehidupan nyata. Bagi orang Kristen, kepedulian pada lingkungan adalah tuntutan iman. Kesejatian iman Kristiani pada orang percaya antara lain terungkap atau terwujud dalam kepedulian nyata pada lingkungan hidup.

Marilah kita belajar dari semangat St. Fransiskus Asisi bersahabat dengan alam dan ciptaan Allah. Sebagai bentuk dari kasih karunia Allah yang telah kita terima, hendaknya kita juga mengasihi Allah dengan turut serta menjaga dan melestarikan alam ini agar hidup kita seimbang dengan alam. Alam yang kita manfaatkan dan diami saat ini harus diwariskan dengan keadaan baik bagi anak, cucu, cicit kita... jangan sampai kita mewariskan kehancuran bagi generasi mendatang, "jangan sampai kita yang dapat untungnya tetapi mereka yang mendapat buntungnya". Mari mengasihi Allah, mengasihi sesama, dan mengasihi alam ciptaan. Demi keberlangsungan hidup yang damai sejahtera. Semoga demikian...Amin...🙏😇

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LATIHAN SOAL MULOK AGAMA KATOLIK

1. Kitab Suci dalam Gereja Katolik disebut juga sebagai… A. Tradisi Suci B. Sabda Allah C. Dogma Gereja D. Liturgi Kudus Jawaban: B ...